Saturday, March 9, 2013

KHILAFAH ABU BAKAR ASH SHIDDIQ

Bismillahir Rahmanir Rahiim
Assalamu Alaikum Wr Wb.
Setelah Rasulullah Saw wafat, kaum Muslimin mengadakan pertemuan di Saqifah Bani Sa'idah. Mereka membicarakan siapakah sepatutnya yang menggantikan Rasulullah Saw dalam memimpin kaum Muslimin dan mengurusi persoalan ummat. Setelah diskusi, pembahasan, dan pengajuan sejumlah usulan; tercapailah kesepakatan bulat bahwa Khalifah Rasulullah pertama sesudah kematian beliau adalah orang yang pernah menjadi Khalifah (pengganti) Nabi Saw dalam mengimami kaum Muslimin pada saat beliau sakit. Itulah Ash Shiddiq, shahabat beliau yang terbesar dan pendamping beliau di dalam gua, Abu Bakar ra.
Ali ra tidak pernah menentang kesepakatan tersebut. Keterlambatan bai'at Ali kepada Abu Bakar karena urusan yang berkaitan dengan perbedaan pendapat yang terjadi antara Abu Bakar dan Fathimah ra mengenai masalah warisan Fathimah dari Rasulullah Saw.
Hal-hal Penting Yang Dilakukan Abu Bakar Selama Menjadi Khalifah

Pertama: Pemberangkatan Pasukan Usamah.
 Setelah resmi menjadi Khalifah, Abu Bakar segera memberangkatkan pasukan Usamah. Pasukan itu tertahan setelah sampai di sebuah tempat dekat Madinah bernama Dzu Khasyab, tempat ketika Usamah mendapatkan berita tentang sakitnya Rasulullah Saw. Abu Bakar ra tidak memperdulikan pendapat-pendapat yang mendesak agar pasukan Usamah dibekukan mengingat tersebarluasnya kemurtadan di sebagian barisan. Sebagaimana beliau juga tidak memperdulikan pendapat-pendapat yang menghendaki penggantian Usamah dengan orang lain.

Abu Bakar Ash Shiddiq ra berangkat mengantarkan pasukan yang dipimpin Usamah, dengan berjalan kaki. Ketika Usamah bermaksud turun dari kendaraannya agar dinaiki oleh Abu Bakar, ia berkata kepada Usamah: "Demi Allah, engkau tidak perlu turun dan aku tidak usah naik". Selanjutnya Abu Bakar menyampaikan wasiat kepada pasukan untuk tidak berkhianat, tidak menipu, tidak melampui batas, tidak mencingcang musuh, tidak membunuh anak-anak atau wanita atau orang lansia, tidak memotong kambing atau onta kecuali untuk dimakan.

Diantara wasiat yang disampaikan Abu Bakar kepada mereka ialah:

"Jika kalian melewati suatu kaum yang secara khusus melakukan ibadah di biara-biara maka biarkanlah mereka dan apa yang mereka sembah".

Kemudian secara khusus Abu Bakar berkata kepada Usamah:

"Jika engkau berkenan kuusulkan agar engkau mengizinkan Umar untuk tinggal bersamaku, sehingga aku dapat meminta pandangannya dalam menghadapi masalah/persoalan kaum Muslimin".

Usamah menjawab: "Urusannya terpulang kepadamu".
Kemudian Usamah bergerak bersama pasukannya. Setiap kali melewati suatu kabilah yang para warganya banyak melakukan kumurtadan, Usamah berhasil mengembalikannya lagi (kepada Islam). Orang-orang murtad itu merasa gentar karena mereka yakin seandainya kaum Muslimin tidak dalam posisi yang amat kuat, niscaya mereka tidak akan keluar pada saaat sekarang ini dan dengan pasukan seperti ini untuk menghadapi orang-orang Romawi. Sesampainya di negeri (jajahan) Romawi, tempat dimana ayahnya terbunuh, Usamah beserta pasukannya menyerbu mereka hingga Allah memberikan kemenangan. Kemudian mereka kembali dengan membawa kemenangan.

Kedua: Memberangkatkan pasukan untuk memerangi orang-orang yang murtad dan tidak mau membayar zakat. Pasukan ini dibaginya sepuluh panji, masing-masing pemegang panji diperintahkan untuk menuju ke suatu daerah. Sementara itu Abu Bakar sendiri telah siap berangkat memimpin satu pasukan ke Dzil Qishshah, tetapi Ali ra berkeras untuk mencegah seraya berkata:

"Wahai Khalifah Rasulullah, kuingatkan kepadamu apa yang pernah dikatakan Rasulullah Saw pada perang Uhud, "Sarungkan pedangmu dan senangkanlah kami dengan dirimu. Demi Allah, jika kaum Muslimin mengalami musibah karena kematianmu niscaya mereka tidak akan memiliki eksistensi sepeninggalanmu".

Kemudian Abu Bakar ra kembali dan menyerahkan panji tersebut kepada yang lain.
Allah memberikan dukungan kepada kaum Muslimin dalam pertempuran ini; sehingga berhasil menumpas kemurtadan, memantapkan Islam di segenap penjuru Jazirah, dan memaksa semua kabilah untuk membayar zakat.

Ketiga: Memberangkatkan pasukan Khalid bin Walid ke Iraq, bersama Mutsni bin Haritsah Asy Syaibani yang kemudian berhasil menaklukan banyak negeri dan kembali dengan membawa kemenangan dan barang rampasan.
Keempat: Abu Bakar memberikan gagasan dan memprakarsai memerangi negeri-negeri Romawi. Setelah para shahabat dikumpulkan dan dimintai pendapat mereka tentang gagasan ini akhirnya mereka menyetujuinya. Lalu Abu Bakar menoleh ke arah Ali seraya berkata; "Bagaimana pendapatmu wahai Abul Hasan?". Ali ra menjawab, "Aku melihat bahwa engkau senantiasa memperoleh keberkahan, keunggulan dan pertolongan. Insya Allah". Mendengar jawaban ini Abu Bakar ra merasa sangat gembira dan Allah pun melapangkan dadanya untuk melaksanakan gagasan tersebut.
Kemudian Abu Bakar mengumpulkan orang-orang dan menyampaikan khutbah kepada mereka. Dalam khutbahnya ia memobilisir masyarakat untuk berangkat jihad. Beliau juga menulis sejumlah surat pada para gubernurnya, memerintahkan mereka agar hadir. Maka setelah berkumpul sejumlah komandan, Abu Bakar memerintahkan mereka agar berangkat ke Syam pasukan demi pasukan.

Abu Bakar ra menunjuk Abu Ubaidah ra mengepalai Amir pasukan. Setiap kali seorang Amir berangkat, beliau melepasnya dan memberikan wasiat agar bertaqwa kepada Allah, menjaga persahabatan dengan baik, selalu menjaga shalat berjama'ah pada waktunya. Beliau berpesan agar masing-masing orang memperbaiki dirinya sehingga Allah menjadikan orang lain berbuat baik padanya, menghormati para utusan musuh yang datang kepada mereka, mempersingkat keberadaan para utusan musuh tersebut di tengah-tengah mereka agar tidak mengetahui keadaan dan kondisi pasukan kaum Muslimin.

Setelah kaum Muslimin berangkat menuju negeri-negeri Romawi dan tiba di Yarmuk, mereka mengirim berita kepada Abu Bakar bahwa pasukan Romawi berjumlah sangat besar. Kemudian Abu Bakar menulis surat kepada Khalid bin Walid di Iraq, memerintahkan agar berangkat menuju Syam dengan membawa separuh pasukan yang bertugas di Iraq untuk membantu pasukan Abu Ubaidah, dan menunjuk Mutsni bin Haritsah sebagai gantinya untuk memimpin separuh pasukan yang ada di Iraq. Kepada Khalid bin Walid Abu Bakar juga memerintahkan agar memimpin pasukan di Syam setibanya di negeri tersebut.
Kemudian Khalid bin Walid berangkat dan bergabung dengan kaum Muslimin di Syam. Kepada Abu Ubaidah, Khalid bin Walid menulis surat yang isinya:

"Amma ba'du, sesungguhnya aku memohon kepada Allah agar melimpahkan keamanan kepada diriku dan dirimu pada saat menghadapi ketakutan, dan memberikan perlindungan di dunia dari segala keburukan. Baru saja aku menerima surat dari Khalifah Rasulullah Saw. Beliau memerintahkan aku agar bergerak menuju Syam dan memimpin pasukannya. Demi Allah aku tidak pernah memintag hal tersebut dan aku tidak menginginkannya. Tetaplah engkau pada posisimu sebagaimana sedia kala; kami tidak akan menolak (perintah)mu, tidak akan menentangmu dan tidak akan memutuskan perkara tanpa kehadiran dirimu...".

Setelah membaca surat Khalid, Abu Ubaidah berkata; "Semoa Allah melimpahkan keberkahan atas keputusan Khalifah Rasulullah dan mendukung apa yang dilakukan oleh Khalid".
Sebelumnya Abu Bakar ra telah menulis surat kepada Abu Ubaida yang isinya menyatakan;

"Amma ba'du! Sesungguhnya aku telah mengangkat Khalid untuk memerangi musuh di Syam. Oleh karena itu, janganlah engkau menentangnya. Dengar dan ta'atilah dia! Wahai saudaraku, sesungguhnya aku mengutusnya kepadamu bukan karena dia lebih baik darimu, tetapi hanya karena aku berkeyakinan bahwa di memiliki kecerdikan dalam berperang di tempat yang sangat kritis ini. Semoga Allah menghendaki kebaikan bagi kami dan kamu. Wassalam...".

Kemudian terjadilah beberapa kali pertempuran sengit antara kaum Muslimin dan orang-orang Romawi yang akhirnya dimenangkan oleh kaum Muslimin. Orang-orang Romawi yang berhasil dibunuh tidak terhitung banyaknya, sebagaimana jumlah mereka yang ditawan.

Ditengah berkecamuknya pertempuran ini Khalid bin Walid mendapat surat yang memberitahukan bahwa Abu Bakar telah wafat dan digantikan oleh Umar ra. Surat itu juga menyatakan pemecatan Khalid bin Walid sebagai komandan pasukan di ganti (kembali) oleh Abu Ubaidah. Berita ini oleh Khalid dirahasiakan agar tida terjadi keguncangan di kalangan barisan kaum Muslimin. Ketika Abu Ubaidah menerima berita tersebut, ia juga merahasiakannya karena pertimbangan yang sama.


Semoga bermanfaat Shob jangan lupa baca juga Abu Bakar ra Wafat. Dalam kelanjutan Sejarah singkat ini
Melangkah Bersama Menuju Mardotillah
Wassalam...


No comments: